Monday, March 12, 2012

PENTINGNYA BELAJAR KEWARGANEGARAAN BAGI MAHASISWA


I)                  PENDAHULUAN

Pendidikan kewarganegaraan merupakan matakuliah yang wajib diberikan dalam pendidikan tinggi, sesuai dengan UU No. 28 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan juga Surat Keputusan Dirjen Dikti No. 267/Dikti/Kep/2000 tentang Penyempurnaan Kurukulum Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi, yang kemudian diperbaharui dengan SK Dirjen Dikti No. 43/Dikti/2006 tentang Rambu rambu Pelaksanaan Matakuliah engembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.
      Tujuan utama pendidikn kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara, sikap dan perilaku cinta tanah air, wawasan nusantara, serta ketahanan nasional dalam diri mahasiswa sebagai calon cendikiawan. Karena itu bagi seorang pelajar untuk belajar atau memhami pendidikan kewargananegaraan itu sangat penting bagi dirinya sendiri agar mempunyai bibit unggul bangsa yang di mana pada masanya nanti bibit ini akan melahirkan pemimpin dunia. Karena itulah diperlukan pendidikan moral dan akademis yang akan menunjang sosok pribadi pelajar Kepribadian mahasiswa akan tumbuh seiring dengan waktu dan mengalami proses pembenahan, pembekalan, penentuan, dan akhirnya pemutusan prinsip diri.

II)                PEMBAHASAN

Mahasiswa adalah bibit unggul bangsa yang di mana pada masanya nanti bibit ini akan melahirkan pemimpin dunia. Karena itulah diperlukan pendidikan moral dan akademis yang akan menunjang sosok pribadi mahasiswa. Kepribadian mahasiswa akan tumbuh seiring dengan waktu dan mengalami proses pembenahan, pembekalan, penentuan, dan akhirnya pemutusan prinsip diri. Negara, masyarakat masa datang, diperlukan ilmu yang cukup untuk dapat mendukung kokohnya pendirian suatu Negara.

            Pentingnya seorang pelajar mempelajari kewarganegaraan dan di dalam suatu negara mempunyai suatu unsur-unsur negara seperti rakyat,wilayah,dan pemerintahan dan adapun konsep-konsep pendidikan kewarganegaraan bagi pelajar adalah :

1.      Pendidikan Kewarganegaraan memiliki dua dimensi ontologi yaitu :

a)      Obyek Telaah yaitu keseluruhan aspek idiil, instrumental, dan praksis disebut sistem pendidikan kewarganegaraan( spkn/SPKn ) yang dapat ditulis dengan semuanya huruf besar atau huruf kecil.
b)      Obyek Pengembangan yaitu keseluruhan anah sosio – psikologi peserta didik yaiyu ranah kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik yang menyangkut status, ak, kewajibannya sebagai warganegara, yang perlu dimuliakan da dikembangkan secara programatik guna mencapai warganegar yang cerdas dan baik.

2.      Aspek Eepestemologi Pendidikan Kewarganegaraan

            Aspek ini berkaitan erat dengan dengan aspek ontologo pendidikan kewarganegaa, karena aspek epistemologis yang pada dasarnya berwujud dalam derbagai bentuk kegiatan sustematis dalam upaya membangun pengetahuan bidang pendidkan kewarganegaraan.

3.      Aksiologi

untuk memfasilitasi pengembangan body of knowledge sistem pengetahuan atau disiplin pendidikan, melandasi dan memfasilitasi pengembangan dan pelaksanaan pendidikan demokrasi di sekolah maupun di luar sekolah, dan membingkai serta memfasilitasi berkembangnya koridorproses demokrasi secara soial kultural dalam masyarakat.
Kompetensi yang diharapkan dari mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan antara lain agar mahasiswa mampu menjadi warga negara yang memiliki pandangan dan komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi dan HAM, agar mahasiswa mampu berpartisipasi dalam upaya mencegah dan menghentikan berbagai tindak kekerasan dengan cara cerdas dan damai, agar mahasiswa memilik kepedulian dan mampu berpartisipasi dalam upaya menyelesaikan konflik di masyarakat dengan dilandasi nilai-nilai moral, agama, dan nilai-nilai universal, agar mahasiwa mampu berpikir kritis dan objektif terhadap persoalan kenegaraan, HAM, dan demokrasi, agar mahasiswa mampu memberikan kontribusi dan solusi terhadap berbagai persoalan kebijakan  publik, agar mahasiswa mampu meletakkan nilai-nilai dasar secara bijak (berkeadaban).

Dalam menghadapi kecenderungan globalisasi tersebut, Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) di Indonesia ditempatkan sebagai salah satu bidang kajian yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor “value-based education”. Selain sebagai value-based education, dalam era global Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia mengemban misi sebagai pendidikan demokrasi (Civic Education for democracy). Oleh karena itu hendaknya Pendidikan Kewarganegaraan mengkaji konsep besar yang dibawa globalisasi, yakni demokrasi, hak-hak asasi manusia, dan menempatkan hukum di atas segalanya (supremacy of law/rule of law) yang didasarkan pada fondasi sepuluh pilar demokrasi (The Ten Pillars of Indonesian Constitutional Democracy) yang menjadi dasar pengembangan pendidikan kewarganegaraan yang baru.
            Apapun penekanannya semua bermuara pada pembangunan civic competence (kompetensi kewarganegaran). Aspek-aspek civic competences tersebut meliputi pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraan (civic skills), dan watak atau karakter kewarganegaraan (civic disposition). Hal ini secara konseptual dan teoritik sejak tahun 1994 telah diajukan oleh Center for Civic Education dalam National Standards for Civics and Government (Branson,1998).
            Dengan demikian terdapat beberapa keharusan dan tuntutan terhadap Pendidikan Kewarganegaraan dalam mengembangkan kompetensi kewarganegaraan di era global, baik dalam kajian disiplin ilmu, kurikulum, dan pembelajaran. Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka perlu diadakan suatu forum ilmiah untuk mengkaji fungsi peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam mengembangkan kompetensi kewarganegaraan di era
globalisasi.

      III)        PENUTUP

Pendidikan Kewarganegaraan lah yang mengajarkan bagaimana seseorang menjadi warga negara yang lebih bertanggung jawab. Karena kewarganegaraan itu tidak dapat diwariskan begitu saja melainkan harus dipelajari dan di alami oleh masing-masing orang. Apalagi negara kita sedang menuju menjadi negara yang demokratis, maka secara tidak langsung warga negaranya harus lebih aktif dan partisipatif. Oleh karena itu kita sebagai mahasiswa harus memepelajarinya, agar kita bisa menjadi garda terdepan dalam melindungi negara. Garda kokoh yang akan terus dan terus melindungi Negara walaupun akan banyak aral merintang di depan.

Dan sebab itu lah semua pelajar di kalangan sekolah maupun mahasiswa harus mempelajari  Pendidikan Kewarganegaraan dan sangat penting manfaatnya, di masa depan harus segera dilakukan perubahan secara mendasar konsep, orientasi, materi, metode dan evaluasi pembelajarannya. Tujuannya adalah agar membangun kesadaran para pelajar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan mampu menggunakan sebaik-baiknya dengan cara demokratis dan juga terdidik.




Wednesday, December 28, 2011

Yamaha "Worldcrosser", Penakluk Medan Off-road



Yamaha telah mengumumkan akan memasarkan XT 1200Z Super Tenere versi Worldcrosser, Maret 2012. Sosok sepeda motor model trail ini pernah dipamerkan di Cologne, tahun lalu, tapi masih konsep.



Dibandingkan dengan kompetitornya, BMW, dengan versi yang sama (GS), tampilan Worldcrosser lebih kasar karena orientasinya memang untuk off-road. Pokoknya, produsen berlogo garputala itu merancang sepeda motor tersebut untuk memenuhi impian mereka yang suka berkeliling dunia dengan kendaraan roda dua.

Super Tenere (disebut juga Super Ten) punya beberapa kelebihan, di antaranya panel samping yang ringan karena menggunakan bahan serat karbon, garpu depan diberi pelindung dan ditambah aluminium anodized pelat hitam, serta drive shift dan rem belakang yang dikasih pelindung ekstra agar terbebas dari hantaman benda keras.




Bila membeli Super Tenere versi standar, Anda bisa mengubahnya menjadi versi Worldcrosser karena tersedia Worldcross Kit. Yamaha juga menyodorkan Worldcrosser R dengan lampu LED serta knalpot yang terbuat dari bahan titanium dan dilengkapi perisai dari bahan serat karbon.



Sumber : http://otomotif.kompas.com/read/2011/12/19/1055406/Yamaha.Worldcrosser.Penakluk.Medan.Off-road

Tampang Sporti Toyota Prius C Buatan TRD



Beberapa rumah modifikasi di Jepang sudah menunjukkan karya mereka pada Toyota Aqua Hybrid a.k.a Prius C. TRD, penyuplai aftermarket kompetisi Toyota, 'gatal' ikut mengubah dan hasilnya Prius C TRD Sportivo akan dipamerkan di Detroit Motor Show, Januari 2012.

Pemakaian aksesoris bikinan TRD telah menutupi Prius C yang ramah lingkungan. Bahkan tampilan hatchback ini jadi lebih sporti setelah spoiler depan diubah dengan penambahan ventilasi udara dan LED daytime running light. Sisi mobil dilengkapi side skirt yang modelnya disesuaikan dengan lekukan spoiler depan. Sementara pada bagian belakang, kesan sportnya sangat kuat setelah dikasih dua spoiler, yakni atas dan bawah, plus diffuser.
Sementara interior tak banyak mendapat sentuhan, namun bukan berarti tidak meninggalkan bekas. TRD hanya memberi tanda pada tombol start/stop dengan warna merah dan lambang TRD di tengahnya.

Mengenai mesin, nasibnya setali tiga uang sama interior, tanpa disentuh sama sekali.
Hal serupa juga dilakukan TRD untuk jantung pacu yang tidak disentuh sama sekali. Namun kesan sporti tetap diberikan melalui penggantian sistem gas buang dengan mengganti knalpot belakang dengan model kembar. Paling tidak ada suara 'nge-bass' yang keluar untuk memberikan kesan sport.

Hal lain  membuat Prius C menarik, yakni stabilitas yang berbeda dengan bawaan pabrik. Hal tersebut berkat perubahan shock absorber dan per kompetisi. Dan penggantian komponen tersebut juga membuat Prius C lebih rendah. Terlebih lagi pelek yang digunakan lebih besar dengan ban yang tipis sehingga menghasilkan daya cengkram lebih optimal.

4 Prinsip Penularan HIV



Human imunodefisiensi virus (HIV) ditularkan melalui kontak langsung antara membran mukosa atau aliran darah dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, sperma, cairan vagina, atau air susu ibu. 

Menurut penjelasan dr.Ekarini Aryasatiani, Sp.OG, dari RSUD Tarakan Jakarta Pusat, secara umum ada 4 prinsip penularan HIV, yakni:

1. Exit. Ini berarti virus harus keluar dari tubuh orang yang terinfeksi, baik melalui hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi. 

2. Survive. Untuk dapat menularkan HIV, virus harus bisa bertahan hidup di luar tubuh. 
"Virus ini tidak bisa bertahan lama di luar tubuh. Untuk peralatan kedokteran yang dipakai dan menyentuh darah pasien positif HIV biasanya direndam dalam larutan klorin 0,5 persen virusnya akan mati," paparnya.

3. Sufficient. Hal ini berarti jumlah virusnya harus cukup untuk dapat menginfeksi.
"Jika virusnya hanya sedikit tidak akan berpengaruh. Karena itu jangan percaya dengan orang yang menakut-nakuti ada tusuk gigi atau jarum di tempat umum yang berasal dari orang positif HIV, selain jumlah virusnya sangat sedikit, pasti virusnya juga sudah mati," paparnya.

4. Enter. Berarti virusnya harus masuk ke tubuh orang lain melalui aliran darah. Hal ini berarti melalui pertukaran darah antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin atau menyusui, hubungan seksual, baik anal atau vaginal, serta alat tusuk tidak steril yang menembus kulit. 

Hubungan seksual yang berpotensi menularkan HIV berlaku bagi semua pasangan apabila salah satunya positif mengidap HIV, baik pasangan homoseksual, heteroseksual, mau pun biseksual, baik di dalam atau di luar perkawinan. 



Sumber : http://health.kompas.com/read/2011/12/01/11380924/4.Prinsip.Penularan.HIV

Dinkes Bali Selidiki Infeksi HIV Melalui Jarum Tato





Dinas kesehatan Bali masih menyelidiki kasus penularan HIV melalui jarum tato seperti yang diklaim seorang turis asal Australia. Dengan demikian belum dapat dipastikan apakah turis tersebut terinfeksi dari jarum tato atau kontak seksual.

"Kami sudah menerima laporan tentang kasus ini dari Menteri Kesehatan dan kami juga telah mendatangi studio tato untuk memastikannya. Sampai saat ini kami masih melakukan investigasi dan belum yakin jika turis itu tertular HIV dari tato ataukah penularan seksual," kata Nyoman Sutedja, kepala dinas kesehatan Bali seperti dikutip AFP.

Sebelumnya seorang turis Australia yang tidak disebutkan namanya melaporkan ia terinfeksi HIV setelah membuat tato saat berlibur di Pulau Dewata itu. 

Setiap tahunnya lebih dari satu juta turis mendatangi Bali untuk berlibur. Menurut Sutedja kasus HIV/AIDS di Bali mencapai 4.200 kasus. Kasus infeksi baru tertinggi ditemui pada wanita pekerja seks, meningkat 19 persen dari tahun sebelumnya.

Tato dan tindik menggunakan jarum yang tidak steril memang bisa menularkan penyakit, terutama jika alat yang dipakai tercemar virus. Penularan yang paling sering ditemui adalah infeksi hepatitis.



Sumber : http://health.kompas.com/read/2011/12/27/10254925/Dinkes.Bali.Selidiki.Infeksi.HIV.Melalui.Jarum.Tato.